Rabu, 26 Oktober 2011

PERUBAHAN FISIOLOGIS MASA NIFAS


BAB  I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
          Setelah ibu melahirkan, maka ibu memasuki masa nifas atau yang lazim disebut puerpurium. Masa nifas (puerpurium) ada waktu yang dimulai setelah placenta lahir dan berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil) dalam  waktu kurang lebih 3 bulan.
          Dimulai dengan kehamilan, persalinan dan dilanjutkan dengan masa nifas merupakan  masa yang kritis bagi ibu dan bayinya. Kemungkinan timbul masalah dan penyulit selama masa nifas. Apabila tidak segera ditangani secara efektif akan membahayakan kesehatan, bahkan bisa menyebabkan kematian dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam  24 jam pertama.
          Untuk  itu pemberian asuhan kebidanan kepada ibu dalam  masa nifas sangat perlu dilakukan yang bertujuan untuk  menjaga kesehatan ibu dan bayi, melaksanakan deteksi dini adanya komplikasi dan infeksi, memberikan pendidikan pada ibu serta memberikan pelayanan kesehatan pada ibu dan bayi.
          Selama masa nifas ibu akan mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang terjadi pada masa nifas tidak hanya terjadi secara fisik saja, melainkan juga psikologis atau kejiwaan. Sehingga, pemberian edukasi tentang informasi yang berkaitan dengan masa nifas sangat perlu diberikan pada ibu dalam  masa nifas. Setiap masa nifas dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi.
          Oleh karena  itu, pelayanan/asuhan merupakan cara penting untuk  memonitor dan mendukung kesehatan ibu nifas normal dan mengetahui secara dini bila ada penyimpangan yang ditemukan dengan tujuan agar ibu dapat melalui masa nifasnya dengan selamat dan bayinyapun sehat.


1.2     Tujuan
1.2.1  Tujuan Umum
                   Agar mahasiswa mampu memahami tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada masa tumbuh kembang nifas, mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada klien dalam  masa nifas.

1.2.2  Tujuan Khusus
          Mahasiswa mampu:
          1.  Melaksanakan pengkajian pada bufas
          2.  Menginterpretasi data
          3.  Mengantisipasi masalah potensial
          4.  Mengidentifikasi kebutuhan segera
          5.  Merenca tindakan dan rasionalisasi
          6.  Melakukan rencana tindakan
          7.  Melaksanakan evaluasi

1.3     Metode Penulisan
          Studi pustaka, praktek langsung, bimbingan dan konsultasi. 

1.4     Sistematika Penulisan
          BAB I      PENDAHULUAN
                          1.1     Latar Belakang
                          1.2     Tujuan
                                    1.2.1  Tujuan Umum
                                    1.2.2  Tujuan Khusus
                          1.3     Metode Penulisan 
                          1.4     Sistematika Penulisan
          BAB II    LANDASAN TEORI 
                          2.1     Pengertian
                          2.2     Perubahan fisiologis pada ibu nifas
                          2.3     Perubahan sistem tubuh lainnya
                           2.4     Perubahan psikologi ibu nifas
                          2.5     Program dan kebijakan teknis
                          2.6     Tanda-tanda bahaya masa nifas
                          2.7     Kebutuhan dasar ibu masa nifas
                          2.8     Pengawasan akhir kala masa nifas
                          2.9     Konsep Asuhan Kebidanan
          BAB III   TINJAUAN KASUS
                          3.1     Pengkajian
                          3.2     Analisa Masalah/Diagnosa
                          3.3     Diagnosa Masalah Potensial
                          3.4     Identifikasi Kebutuhan Segera
                          3.5     Intervensi
                          3.6     Implementasi
                          3.7     Evaluasi
          BAB IV   KESIMPULAN 
          BAB V    DAFTAR PUSTAKA
    















BAB II
LANDASAN TEORI

2.1     Pengertian
2.1.1  Masa nifas adalah  waktu yang dimulai setelah  kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. 
(Prawirohardjo, 2002:122)
2.1.2  Masa nifas (puerperium) adalah  masa sesudahnya persalinan terhitung dari saat selesai persalinan sampai pulihnya kembali alat-alat kandungan.
(Depkes RI, 2004:176)
2.1.3  Masa nifas adalah  masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lama masa nifas yaitu 6-8 minggu.
(Muchtar, 1998:115)
2.1.4  Masa nifas adalah  masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.
(Kapita Selekta Jilid I, 2001:316)

2.2     Perubahan Fisiologis Pada Ibu Nifas
2.2.1  Involusi Rahim
                   Setelah placenta lahir, uterus merupakan alat yang keras karena  kontraksi dan relaksi otot-otot. Fundus uteri 3 jari bawah pusat, selama 2 hari berikutnya besarnya tidak seberapa berkurang, tetapi sesudah 2 hari uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari ke –10 tidak teraba lagi dari luar. Involusi terjadi karena  masing-masing sel menjadi lebih kecil, karena  cytoplasmanya yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan oleh proses autolisis, zat protein dinding rahim dipecah, diabsorbsi dan dibuang dengan air kencing.
2.2.2  Involusi Tempat Placenta
                   Setelah persalinan tempat placenta merupakan tempat dengan permukaan besar, tidak rata dan kira- kira sebesar telapak tangan. Pada permulaan nifas placenta mengandung pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut. Tetapi luka bekas placenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena  luka dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan endometrium baru ditambah permukaan luka.

2.2.3  Perubahan Pembuluh Darah
                   Dalam  kehamilan, uterus banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi karena  setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam  masa nifas. 

2.2.4  Perubahan Pada Serviks Dan Vagina
                   Beberapa hari setelah persalinan, ostium eksternum dapat dilalui oleh 2 jari. Pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena  robekan dalam  persalinan. Pada serviks terbentuk sel-sel otot baru hipersalifasi ini dan karena  terakhir retraksi dari servik robekan serviks menjadi sembuh. Walaupun begitu setelah involusi selesai ostium eksternum tidak serupa dengan keadaannya sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum lebih besar dan tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya. Vagina  yang sangat regang waktu persalinan lambat laun mencapai ukuran-ukurannya  yang normal pada minggu ke-3 pada masa nifas rugae mulai tampak kembali. 

2.2.5  Dinding Perut dan Peritonium
                   Setelah persalinan dinding perut longgar karena  diregang begitu lama. Tetapi biasanya pulih kembali dalam  6 minggu.



2.2.6  Laktasi
                   Masing-masing buah dada terdiri dari 15-24 lobi yang terletak terpisah satu sama yang lain oleh jaringan lemas. Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini. Acini ini menghasilkan air susu. Tiap lobus mempunyai saluran halus untuk  mengalirkan air susu. Saluran ini disebut duktus laktiferus yang memusat menuju puting susu dimana masing-masing bermuara. Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam  kehamilan. Pada waktu itu buah dada belum mengandung susu melainkan colostrum yang dikeluarkan dengan memijat areola mamae. 

2.2.7  Lochea
                   Adalah  cairan/sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam  masa nifas. 
2.2.7.1   Lochea Rubra
              Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vernik kaseosa, lanugo dan mekanium selama 2 hari pasca persalinan.
2.2.7.2   Lochea Sanguinolenta
              Berisi darah berwarna merah kuning dan lendir. Hari ke 3-7 pasca persalinan.
2.2.7.3   Lochea Serosa
              Berwarna kuning, cairan tidak  berdarah lagi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
2.2.7.4   Lochea Alba
              Cairan putih selama 2 minggu.

2.3     Perubahan Sistem Tubuh lainnya
2.3.1  Suhu Badan
                   Suhu badan pasca persalinan dapat naik lebih dari 0,5°C dari keadaan normal. Tetapi tidak lebih dari 39°C sesudah 12 jam pertama setelah melahirkan. Umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C kemungkinan ada infeksi.

2.3.2  Nadi
                   Nadi umumnya 60-80 x/menit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi.  Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan/penyakit jantung. Pada nifas umumnya denyut nadi lebih  labil dibanding suhu badan.

2.3.3  Sistem Perkemihan dan Buang Air Besar
                   Miksi harus secepatnya dapat dilakukan sendiri. Bila kandung kemih dapat dilakukan kateterisasi. Untuk  mengistirahatkan otot-otot kandung kencing sehingga kelancaran kedua sistem tersebut berlangsung dengan baik BAB harus dilakukan setelah 2 hari PP.

2.3.4  Sistem Muskulosceletal
2.3.4.1   Terjadi penurunan tonus otot secara bertahap
2.3.4.2   Kelahiran bayi sering menimbulkan trauma musculo pubococygeal dan sfingter mayor pubis.
2.3.4.3   Pada 24 jam PP terjadi nyeri, lemah pada kaki ® ketegangan otot dan penggunaan tenaga. 

2.3.5  Sistem Kardiovaskuler
2.3.5.1   Secara bertahap akan kembali normal ® cardiac output 2-9 hari akan kembali seperti sebelum hamil.
2.3.5.2   Setelah satu minggu post partum volume darah akan kembali stabil. 

2.4     Perubahan Psikologi Masa Nifas
2.4.1  Peran sebagai  Ibu
2.4.1.1   Teori Reva Rubin
              Penekanan teori rubin ® pencapaian peran ibu. Seorang wanita membutuhkan proses belajar melalui serangkaian aktivitas berupa latihan-latihan. Pencapaian peran ibu dimulai selama hamil sampai 6 bulan setelah persalinan.
2.4.1.2   Teori Ramonat T Marcer
              Penekanan ® stres ante partum dan pencapaian peran ibu. Menjadi seorang ibu berarti memperoleh identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan pengenalan yang lengkap tentang diri sendiri. Step dalam  pelaksanaan peran ibu.
              a.  Antisipatori
                   Yaitu masa sebelum menjadi ibu, penyesuaian sosial dan psikologi terhadap peran barunya dengan mempelajari apa yang dibutuhkan untuk  menjadi seorang ibu.
              b.  Formal
                   Yaitu dimulai dengan peran sesungguhnya seorang ibu.
              c.  Informal
                   Yaitu ibu mampu menemukan jalan yang baik untuk  melaksanakan peran seorang ibu.
              d.  Personal
                   Yaitu wanita yang telah mahir dalam  melaksanakan perannya. 
2.4.1.3   Teori Jean Ball
              Penekanan ® agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai  ibu baik fisik dan psikologis. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan teori ini terbentuk 3 element :
              1.  Pelayanan maternitas
              2.  Pandangan masyarakat terhadap keluarga
              3.  Support terhadap kepribadian wanita 
2.4.1.4   Bainding dan A. Hachment
              1.  Menurut Nelson (1986)
                   -    Banding = dimulainya interaksi emosi sensorik, fisik antara  orangtua dan bayi segera setelah lahir.
                   -    Attachment = ikatan efektif yang terjadi diantara individu (pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab). 
              2.  Benner dan Brown (1989)
                   -    Bounding = terjadi hubungan orangtua dan bayi sejak awal kehidupan.
                   -    Attachment = pencurahan kasih sayang diantara individu.

2.5     Program dan Kebijakan Teknis
                   Paling sedikit 4x kunjungan  masa nifas dilakukan untuk  menilai status ibu dan bayi dan untuk  mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi

Kunjungan

Waktu
Tujuan
1
6-8  jam setelah persalinan
-    Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
-    Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
-    Memberikan konseling pada ibu/salah satu anggota keluarga, bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena  atonia uteri.
-    Pemberian ASI awal
-    Melakukan hubungan antara  ibu dan BBL
-    Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
2
6 hari setelah persalinan
-    Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
-    Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, perdarahan abornomal, tidak ada bau
-    Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
-    Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
-    Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, perawatan tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari
3
2 minggu setelah persalinan
-    Sama seperti kunjungan ke-2
-    Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang  ibu/bayi alami
4
6 minggu setelah persalinan
-    Memberikan konseling untuk  program KB secara dini

2.6     Tanda-tanda Bahaya Masa Nifas
2.6.1  Perdarahan Pervaginam Banyak dan Menggumpal
2.6.1.1   Kurang 24 jam PP, penyebabnya:    
              1.  Sisa uri
              2.  Kontraksi lemah/inertia uteri
              3.  Perdarahan karena  luka jalan lahir
2.6.1.2   Lebih dari 24 jam PP penyebabnya adalah  sisa uri

2.6.2  Lochia Berbau
          Kemungkinan penyebab: koprostatis (lochea yang tertimbun pada vagina)

2.6.3  Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan terasa nyeri
2.6.3.1   Bendungan Payudara
              -    Suhu tidak lebih dari 38,5°C
              -    Terjadi dalam  minggu-minggu pertama PP
2.6.3.2   Mastitis
              -    Suhu lebih dari 38,5°C
              -    Terjadi pada minggu ke-2 PP
              -    Bengkak, keras, kemerahan, nyeri tekan

2.6.4  Kaki terasa sakit, merah dan bengkak
          Kemungkinan penyebab tromboplebitis femuralis 

2.6.5  Demam
          Kemungkinan penyebab:
          -    Febris puerpuralis
          -    Mastilitis
          -    Flegmasia Alba Dolens


2.6.6  Rasa Sakit Waktu BAK, Kemungkinan Penyebab Sistitis
          Gejala : - kencing sakit
                        - daerah atas sympisis nyeri tekan

2.6.7  Rasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya.
2.6.8  Kehilangan nafsu makan dalam  waktu yang lama
2.6.9  Sakit kepala yang terus menerus, nyeri epigastitik

2.7     Kebutuhan dasar ibu nifas
2.7.1  Istirahat 
2.7.1.1   Menganjurkan ibu untuk  beristirahat cukup untuk  mencegah kelelahan yang berlebihan.
2.7.1.2   Sarankan ibu untuk  kembali ke kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan. 
2.7.1.3   Menyarankan ibu untuk  tidur siang.
2.7.1.4   Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam  beberapa hal:
              1.  Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
              2.  Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
              3.  Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk  merawat bayi dan dirinya sendiri.

2.7.2  Personal Higiene
2.7.2.1   Menganjurkan ibu menjaga kebersihan seluruh tubuh
2.7.2.2   Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air
2.7.2.3   Menyarankan ibu untuk  ganti pembalut minimal 2 kali sehari
2.7.2.4   Menyarankan ibu untuk  mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah genetalia.
2.7.2.5   Nasehati ibu untuk  membersihkan dari setiap kali BAB atau BAK.
2.7.2.6   Jika ibu mempunyai luka episiotomi/laserasi sarankan pada ibu untuk  menghindari menyentuh daerah luka.
2.7.3  Nutrisi
2.7.3.1   Konsumsi 500 kalori tiap hari
2.7.3.2   Makanan dengan diit seimbang untuk  dapat protein, vitamin dan mineral yang cukup. 
2.7.3.3   Minum air putih ± 3 liter setiap hari 
2.7.3.4   Minum pil penambah darah selama 40 hari pasca persalinan. 

2.7.4  Perawatan Payudara
2.7.4.1   Menjaga payudara tetap bersih dan kering
2.7.4.2   Memakai bra yang menopang
2.7.4.3   Bila puting susu lecet, oleskan ASI yang keluar pada sekitar puting susu tiap kali selesai menyusui
2.7.4.4   Bila lecet berat  istirahat 24 jam ASI dikeluarkan dan diminimkan dengan memakai sendok.
2.7.4.5   Bila payudara bengkak akibat bendungan ASI kompres payudara dengan kain basah dan hangat selama 5-10 menit. 

2.7.5  Hubungan Seksual
          Secara fisik aman untuk  berhubungan suami istri begitu darah yang merah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam  vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk  melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.

2.7.6  Keluarga Berencana
          Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan kehamilannya. Namun petugas kesehatan dapat membantu merencanakan dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena  itu, metode amenorhea laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk  mencegah terjadinya kehamilan baru.

2.8     Pengawasan Akhir Kala Nifas
                   Pemeriksaan akhir kala nifas (post partum) sangat penting karena  dapat digunakan untuk  melakukan pemeriksaan khusus sebagai  berikut:
          2.8.1  Melakukan pemeriksaan pap smear untuk  mencari kemungkinan kelainan stilogi sel servik/sel endometrium
          2.8.2  Menilai seberapa jauh involusi uteri
          2.8.3  Melakukan pemeriksaan inspekulo, sehingga dapat menilai perlukaan post partum
          2.8.4  Mempersiapkan untuk  menggunakan metode KB.

2.9     Konsep Asuhan Kebidanan

          Asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu pasien atau klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara:
-    Bertahap dan sistematis
-    Melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan 

1.  Manajemen Kebidanan menurut Varney, 1997
     1.  Pengertian
Ø Proses pemecahan masalah 
Ø Digunakan sebagai  metode untuk  mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah. 
Ø Penemuan-penemuan keterampilan dalam  rangkaian atau tahapan yang logis. 
Ø Untuk  pengambilan suatu keputusan
Ø Yang berfokus pada klien. 


     2.  Langkah-langkah 
          I.         Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk  memulai keadaan klien secara keseluruhan.
          II.        Menginterpretasikan data untuk  mengidentifikasi diagnosa atau masalah.
          III.      Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
          IV.      Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien. 
          V.        Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
          VI.      Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman.
          VII.     Mengevaluasi keefektifan asuhan yang dilakukan, mengulang kembali manajemen proses untuk  aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

          *   Langkah 1: Tahap Pengumpulan Data Dasar
                        Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Yang terdiri dari data subjektif data objektif. Data subjektif adalah  yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa.  Yang termasuk data subjektif antara  lain biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biopskologi spiritual, pengetahuan klien.
                   Data objektif adalah  yang menggambarkan  pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam  data fokus. Data objektif terdiri dari pemeriksaan fisik yang sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), pemeriksaan penunjang (laboratorium, catatan baru dan sebelumnya).

             *   Langkah II : Interpretasi Data Dasar

                        Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.

          *   Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya
                   Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.

          *   Langkah IV: Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk  melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien
                   Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk  dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. 

             *   Langkah V :  Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh

                   Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.

             *   Langkah VI : pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman

                      Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk  mengarahkan pelaksanaannya. 

             *   Langkah VII: Evaluasi

                   Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar tetap terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam  diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap efektif jika memang benar dalam  pelaksanaannya.


BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1     PENGKAJIAN
          Tanggal : 26-9-2006                              Jam : 00.45
3.1.1  Data Subjektif
3.1.1.1  
Nama              :   Ny. M
Umur               :   40 tahun 
Suku/bangsa    :   Jawa/Indonesia
Pendidikan      :   SMP
Pekerjaan        :   Pedagang
Penghasilan     :   ± 1.500.000/bln
Alamat            :   Surabaya 
No. Register    :   95-111-06
Nama suami    :   Tn. S
Umur               :   48 tahun 
Suku/bangsa    :   Jawa/Indonesia
Pendidikan      :   SMA
Pekerjaan        :   Pedagang
Penghasilan     :   ± 2.000.000/bln
Alamat            :   Surabaya 

3.1.1.2   Keluhan Utama
              Ibu mengatakan telah melahirkan 2 jam yang lalu dan perut masih terasa mules.
3.1.1.3   Riwayat Persalinan
              1.  Persalinan sekarang
              -    Tempat melahirkan   : BPS Ny. Sri Kasijati, Amd.Keb
              -    Jenis Persalinan   :    Spt B
              -    Penyulit Persalinan   : Tidak ada
              -    Penolong             :    bidan

              BAYI
              Lahir                    :    25-9-2006                Jam : 22.30
              BB/PB                 :    3300 gr/50 cm
              AS                       :    7-10
              Cacat bawaan      :    (-)
              Masa gestasi        :    38/39 minggu
              2.  Persalinan yang lalu
Suami ke
Anak Ke
Kehamilan
Persalinan
Bayi
Nifas
KB
Usia
Penyulit
Jenis

Penyulit

Tempat
Penolong
L/P
BB/PB
AS
Keadaan
Umur
Penyulit
Laktasi
I
I
9 bln
-
Spt B
-
BPS
Bidan
E
3400/57
-
Baik
12 thn
-
5 th
-

II
9 bln
-
Spt B
-
BPS
Bidan
G
4100/58
-
Baik
9 thn
-
2 th
-

III
9 bln
-
Spt B
-
BPS
Bidan
E
3700/57
-
Baik
14 bulan
-
7 bln
Pil

IV
38/39
-
Spt B
-
BPS
Bidan
G
3300/50
7-10
Baik
2 jam
-
-
-

3.1.1.4   Riwayat Psikososial
              -    Respon ibu dan keluarga : baik
              -    Persepsi ibu terhadap respon keluarga : baik      
              -    Hubungan dengan keluarga : baik
3.1.1.5   Perilaku kesehatan
              Ibu mengatakan jika sakit pergi ke dokter atau petugas kesehatan yang  lain dan tidak minum obat-obatan kecuali dari dokter atau petugas kesehatan yang lain. 
3.1.1.6   Pola kebiasaan sehari-hari
              -    Pola Nutrisi
                   Di rumah: makan 3x/hari 1 porsi dengan nasi, lauk, sayur. Minum 8-10 gelas/hari.
                   Di BPS : makan 1x porsi kecil dengan nasi, lauk, sayur. Minum 1 gelas air putih dan teh manis.
              -    Eliminasi
                   Di rumah: BAK 6-8 x/hari, BAB 2 hari sekali 
                   Di BPS : BAB (-), BAK (-)
              -    Personal hygiene
                   Di rumah : mandi 2x/hari. Ganti baju 2x/hari.
                   Di BPS : setelah bersalin dimandikan diatas tempat tidur oleh petugas 

              -    Istirahat
                    Di rumah : mandi 2x/hari, ganti baju 2x/hari
                   Di BPS : setelah melahirkan belum istirahat 
              -    Aktivitas
                   Di rumah: selain berdagang juga melakukan kegiatan IRT seperti memasak, menyapu,  mencuci.
                   Di BPS : setelah melahirkan belum melakukan aktivitas apa saja dan masih terbaring di tempat tidur.
              -    Hubungan sexual :
                   Di rumah : melakukan hubungan sexual 3x/minggu
                   Di BPS : setelah melahirkan ibu belum melakukan hubungan sexual. 

3.1.2  Data Objektif
3.1.2.1   Kesadaran : composmentis
3.1.2.2   TTV :            TD : 120/80 mmHg                 RR : 24x/menit
                                    S : 367°C                                 N : 88 x/menit 
3.1.2.3   Pemeriksaan fisik
              Mata                         :    -       Conjungtiva : tidak anemis
                                               -    Sklera : tidak ikterus
                   Payudara         :    -    Colostrum : belum keluar
                                               -    Bentuk: bulat, tegang
                                               -    Puting susu: menonjol
                                               -    Pembengkakan : tidak ada
                                               -    Nyeri tekan : tidka ada
              Pengeluaran Lochea :    -    Warna             :    merah
                                                    -    Jumlah            :    1 kotek
                                                    -    Bau                 :    anyir
              Perineum             :    -    Bekas jahitan       :    ada
                                               -    Kebersihan          :    baik
                                               -    Odema                 :    tidak ada

-
-
-
-

 
-
-
-
-

 
              Ekstremitas atas dan bawah:
              -    Odema     :
              -    Varices     :          
              -    Reflek Patela : +/+

3.1.2.4   Data Penunjang
              Tidak ada 

3.2     Analisa Masalah/Diagnosa
          DX    :    P40004            2 jam PP          fisiologis
          DS    :    Ibu mengatakan telah melahirkan 2 jam yang lalu, perut masih terasa mules dan keluar darah sedikit-sedikit
          DO    :    KU  baik
                        TD : 120/80 mmHg                 RR : 24x/mnt
                        N : 88 x/menit                                     S : 367°C
                                    TFU 1 jari dibawah pusat
                         UC : (+) baik
                        Perdarahan 50 cc
                        Pada  perineum terdapat luka jahitan, kondisinya bersih dan masih basah di kompres dengan betadin. 

3.3     Diagnosa Potensial
          Tidak ada

3.4     Identifikasi Kebutuhan Segera
          Tidak ada 





3.5     Intervensi

Diagnosa
Intervensi
Rasional
P40004 2 jam PP fisiologis
Tujuan   :  Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 24 jam diharapkan ibu tidak ada keluhan.
    
     Kriteria :
   - Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan petugas
   - Ibu tidak ada keluhan dan KU baik
   -Ibu mampu melakukan aktivitas seperti biasa 


Intervensi:
     1.  Lakukan pendekatan terapeutik pada klien
                                                                               
                            3.  Berikan HE tentang gizi seimbang ibu nifas, perawatan luka perinium, personal higiene.
                                         Rasional : dengan memberikan HE tentang gizi seimbang diharapkan ibu dan bayi sehat. HE tentang perawatan luka dan personal higiene diharapkan luka tetap terjaga dengan baik sehingga membantu kesembuhan
Rasional : diharapkan terjadlin hubungan yang baik antara  petugas kesehatan dan ibu.
Rasional : dengan pemantauan ketat kita bisa mengetahui dengan cepat jika terjadi komplikasi terutama perdarahan

2.  Observasi TTV dan proses involusi uterus
                                                .













     DX    :    P40004     2 jam PP          fisiologis
          DS    :    Ibu mengatakan telah melahirkan 2 jam yang lalu dan perut masih terasa mules
          DO    :    KU  baik
                        TD : 120/80 mmHg                 RR : 24x/mnt

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar